Oleh: akubisadengar | Januari 2, 2008

Tuna Rungu, Tak Halangi Galuh Sukmara Menerima Beasiswa

Wanita kelahiran Banjarnegara, 9 Juni 1978 ini dilahirkan dengan keterbatasan fisik sebagai tuna rungu, tapi niatnya untuk melanjutkan kuliah di program S2 yang dibuka oleh Depkominfo, luar biasa hebat. Betapa tidak, meski dalam seleksi itu ia diharuskan mengikuti TOEFL, Galuh, demikian ia biasa dipanggil, berusaha semaksimal untuk bisa lolos dan diterima.

Apa yang dilakukan? Maka ditulislah surat kepada panitia seleksi. Begini bunyi suratnya: Mengenai tes TOEFL, tidak ada satu lembaga pendidikan bahasa Inggris yang bersedia memberi sertifikat TOEFL karena ada test ”listening part” yang wajib diikuti, padahal saya tidak mampu mendengar suara percakapan. Namun saya bersedia di tes lagi ketika dipanggil Depkominfo. Saya bersedia mengikuti tes tertulis dan literacy skill, sehingga mengingat tes TOEFL tidak diperuntukkan untuk peserta tuna rungu, membuat saya merasa terhambat dengan kebijakan tersebut. Mohon pengertiannya. Terima kasih.

Apa dengan surat itu kemudian panitia meloloskan Galuh dengan mudah. Tidak! Karena dia juga harus bersaing dengan 608 orang pelamar program S2 lainnya, yang tentu dalam keadaan normal, tidak tuna rungu. Itulah sebabnya ketika ia dinyatakan lolos dalam seleksi, menjadi sangat luar biasa, bukan hanya bagi Galuh tapi juga bagi Depkominfo yang akan segera mengirimnya ke Australia untuk bidang studi sign linguistic.

”Kami memang telah melakukan seleksi cukup ketat, dan kalau pun Galuh kemudian lolos, itu karena prestasinya yang luar biasa,” kata Kepala Badan Penelitian dan pengembangan SDM Depkominfo, Aizirman Djusan.

Dikatakannya, meski Galuh memiliki keterbatasan fisik sebagai tuna rungu, tapi dia memiliki prestasi akademik cemerlang sekaligus menguasai tiga bahasa asing, Inggris, Perancis dan Jepang secara tertulis. ”Kini Galuh telah dinyatakan diterima di La Trobe University, Australia, dalam bidang sign linguistic dan dalam waktu dekat dia akan segera berangkat,” kata Aizirman.

Sekilas bertemu dengan Galuh, tidak terlihat kalau dia seorang yang tunga rungu. Wajahnya ayu berbalut jilbab. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan Soejanto dan Sajida Ni’mah ini adalah alumnus Fakultas Psikologi UGM, tahun 2006. Kemauan belajarnya sangat luar biasa, ini dibuktikan ketika Galuh masih kuliah, dia sudah menerima berbagai beasiswa, diantaranya Grant pada tahun 1997-1998 dari Alexander Graham Bell AS, tahun 2000-2001 mendapatkan scholarship di Duskin-Ainowa, Tokyo dan lainnya.

Apa pandangan Galuh tentang anak-anak tuna rungu? ”Anak-anak tuna rungu Indonesia hampir 90 persen mereka lulus tanpa sebuah bahasa. Anak-anak tuna rungu telah termarjinalkan dalam haknya memperoleh pendidikan yang layak akibat dari ketidaksesuaian metode pendidikan bagi mereka. Sehingga praktis anak-anak tuna rungu di Indonesia terbelakang dalam dunia pendidikan,” katanya.
Diungkapkan Galuh, pendidikan anak-anak tuna rungu Indonesia telah mengalami ketertinggalan jauh 30-40 tahun dibandingkan dengan pendidikan serupa di Swedia, Amerika dan Jepang. Apa penyebabnya? ”Ini diakibatkan oleh rendahnya pengetahuan dan wacana para guru yang tidak memahami kondisi dan kebutuhan anak-anak tuna rungu,” tulis Galuh.

Di Sekolah Luar Biasa (SLB), ungkap Galuh menjelaskan, anak tuna rungu ”direhabilitasi”, ”diperbaiki” untuk menjadi anak normal yang bisa mendengar dan bicara, akibatnya anak-anak tuna rungu gagal mencapai prestasi akademiknya. ”Padahal dengan menerapkan sistem ’bilingualisme’ di sekolah dengan memberikan bahasa pengantar bahasa isyarat sebagai bahasa ibu mereka, akan memudahkan anak-anak tuna rungu memiliki kematangan sosial, kognitif dan linguistik lebih baik,” tulis Galuh panjang lebar.
Itu sebabnya, Galuh berharap dengan beasiswa yang diperolehnya ini, dengan bisa memperdalam bidang sign linguistic, ke depan ia bisa mengubah sistem pendidikan yang lebih inovatif, efektif dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak didik, dengan tidak melarang anak-anak tuna rungu dalam menggunakan bahasa isyarat di kelas, karena sampai sekarang bahasa isyarat masih dinaifkan dan ”dilarang”.

Bagi Galuh sendiri, ia memang terbiasa sejak di bangku TK hingga kuliah ditempuhnya di sekolah formal. Tapi bagaimana bagi yang lain. ”Sejak umur setahun saya sudah tidak bisa mendengar. Waktu itu, saya merasa cacat fisik adalah aib. Tapi atas dorongan orang tua, sejak kecil saya belajar bahasa isyarat, belajar membaca dan menulis. Waktu saya habiskan untuk belajar bagaimana mampu menyerap informasi sebanyak mungkin layaknya orang normal,” ungkap lulusan SMA Negeri I Banjarnegara ini. (Jakarta, 14 Agustus 2007)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: