Oleh: akubisadengar | Januari 14, 2008

Sentuhan Ibu

Di balik kekurangan, terselip kelebihan. Di balik kesulitan, terbuka peluang…

Heru Bodro Yuwono, yang sejak lahir menderita cacat fisik, percaya betul bahwa derita tunarungu bawaannya bukan akhir hidupnya. Tak hanya hidup normal, Ia bahkan mampu meraih mimpi masa kecilnya, menjadi arsitek.

Sri Soelarmi membuka kamar anak bungsunya. Bocah berusia sembilan bulan kelahiran 3 September 1971 itu tampak asyik bermain di tempat tidur. “Mas Heru!” panggilnya. Namun, si bungsu seolah tak peduli. Ia tetap asyik dengan mainannya. Seringnya kejadian seperti itu membuat Soelarmi was-was. “Jangan-jangan airmatanya langsung menetes.

Dua dari tujuh anaknya menderita tunarungu. Apakah Heru juga bernasib sama?

Padahal, ketika lahir ia menangis keras. Lucu sekali melihat wajahnya yang bulat mengucapkan kata “mam” saat ingin makan, atau “mama” ketika memanggil ibunya. Bahkan, bila setiap pagi melepas ayahnya, Soenoe Hidigdo (almarhum) yang berdinas di Departemen Pendidikan & Kebudayaan, berangkat kerja, Heru mungil menggoyang tangan sambil berkata, “Dah!.

Kebahagiaan itu berakhir sewaktu dokter THT memvonis, Heru menderita tunarungu. Walau hatinya terguncang, Soelarmi sudah lebih siap, mengingat kedua anaknya terdahulu, Agus dan Nur, juga bernasib sama.

Bangun Percaya Diri

* “Saya sendiri tak tega mengatakan dirinya tunarungu,” sendu suara Soelarmi.

Namun semasa kecil, Heru sudah merasa dirinya amat berbeda dengan teman-teman sepermainannya. Agak sulit ia memahami perkataan teman-temannya sehingga, “Kami akhirnya sering menggunakan bahasa tubuh.”

Meski tiga anaknya menderita tunarungu, Soelarmi tak patah Semangat. Pasalnya, ia merasa anak-anaknya memiliki kecerdasan yang memadai. Ia bertekad memperjuangkan persamaan hak mereka dengan anak normal dalam bidang pendidikan.

“Saya akan arahkan mereka, agar kelak dapat mengandalkan kemampuan diri sendiri.”

Karenanya, Heru dan kedua kakaknya sejak dini dimasukkan ke TLO (Taman Latihan Observasi) Santi Rama di Cilandak, Jakarta, lalu meningkat ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Santi Rama. Heru anak yang ramah, temannya banyak. Meski pendiam, ia bukan anak pemalu. Ia punya sejumlah teman dekat, yang sering diajaknya menginap di rumah bila libur.

Kebetulan, menurut Soelarmi, Heru bukan termasuk anak sulit. Selain tidak nakal, ia tergolong patuh dan disiplin. “Kalau ada keinginan yang tak dikabulkan, ia tak pernah ngambek atau marah-marah. Paling menangis, tapi tak ditunjukkannya,” kisah ibu yang menjual tanah keluarga di Tulungagung, kemudian pindah ke Balekambang, Condet, Jakarta Timur, itu. Bersama suami, ia ikut mendirikan SLB Frobel Montessori tahun 1982.

Di rumah, ibu lulusan SKP (Sekolah Kepandaian Putri) ini mendorong Heru agar selain menggunakan bahasa isyarat, juga belajar berbicara seperti orang biasa, “Supaya ia juga bisa berkomunikasi dengan orang normal.”

Sikap orangtua yang tak merasa malu memiliki anak tunarungu ikut membangun rasa percaya dirt Heru. Apalagi, “Setiap aku naik kelas, sama seperti anak-anak lainnya, Bapak dan Ibu selalu memberiku hadiah,” kenang Heru.

Berbeda dengan teori, bahwa fantasi anak tunarungu terbatas, pada Heru hal itu ternyata tidak berlaku. Imajinasinya kuat. Ia ekspresikan dalam hasil gambar yang cukup kuat. Oleh sebab itu, seraya mempertebal rasa percaya diri serta mengikis rasa ragu-ragu dan khawatir, Soelarmi mendorong Heru ikut lomba menggambar. Hasilnya sungguh manis. Di TLO Santi Rama, Heru menjadi juara I. Sedangkan di SLB Santi Rama, ia berhasil meraih posisi juara III.

Menggapai Cita-cita

* Usai Heru menyelesaikan pendidikan dasar di SLB Santi Rama, Soelarmi berkeras agar Heru melanjutkan pendidikan ke sekolah umum.

Kehendak ini agak berbeda dari suaminya yang menganggap anaknya cukup mengikuti les saja. Ia yakin, Heru tak sulit bersosialisasi laiknya anak normal. Heru sendiri menyambut baik keinginan ibunya.

Sri Soelarmi sendiri selalu mendampingi ketika si bungsu harus ikut tes masuk. Heru akhirnya diterima di SMP Santo Markus, Cililitan. Sehari-hari, ia tak merasa minder bergaul dengan teman-teman sebaya yang normal. Bahkan, karena impulsnya berkembang wajar seperti anak remaja lainnya, ia pun merasa tertarik pada lawan jenis. Tapi, sang ibu mengingatkan,
“Boleh pacaran kalau sudah selesai kuliah, dan boleh menikah sesudah bekerja. Jangan sampai cita-cita menjadi insinyur kandas di tengah jalan.”

Ketika melanjutkan sekolah menengah ke SMA Vianney Kebon Jeruk, Jakarta Barat, kegiatan sehari-hari Heni bukan hanya bersekolah. Soelarmi memacu Heru ikut les bahasa dan mata pelajaran di Santa Lusia, Cililitan. Selain itu, sejak SD ia aktif di Gerakan Pramuka, organisasi khusus penyandang tunarungu, serta di Mudika (Muda-mudi Katolik).

Langkah Heru untuk mencapai cita-cita makin menggelora. Ia tak terlalu sulit mencerna seluruh pelajaran di kelas. Bahkan sejak SMP ia sudah sangat menyukai pelajaran matematika. Tak heran nilai matematika di rapornya selalu tercetak angka 8. Kendala hanya terjadi ketika dia harus berkomunikasi dengan guru atau teman.

Terutama dalam pelajaran Bahasa Indonesia, “Aku sering salah tafsir dan salah jawab, karena aku kurang mengerti tata bahasa orang normal. Sejumlah kata bahkan terasa rumit sekali untuk dimengerti,” aku Heru.

Untunglah, teman-temannya begitu terkesan akan sikapnya yang tak mudah patah semangat dan gemar membaca. Dengan senang hati, mereka mengajari remaja yang tim tarik tambangnya sejak SMP selalu meraih gelar juara I itu. Kalaupun komunikasi mentok, “Terpaksa kami menggunakan kertas, Komunikasi lewat tulisan itu kadang justru lebih efektif.”

Selepas SMA, pemuda yang selalu naik kendaraan umum ini sudah betul-betul mantap pada cita-citanya menjadi insinyur! Target itu seolah sudah menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Ia kemudian mendaftarkan diri di Fakultas Teknik Universitas Trisakti jurusan Arsitektur. “Aku lulus tes masuk karena bisa menggambar botol Coca Cola seperti aslinya,” kenang Heru.

Bakat menggambarnya memang cukup menonjol. Itu sebabnya, dalam tugas kelompok, Heru biasanya kebagian tugas menggambar, sementara teman-temannya yang lain menjawab pertanyaan. Bisa dibayangkan betapa pentingnya peran kertas buat Heru. Selain bermanfaat untuk memecahkan kesenjangan dalam berkomunikasi, kertas juga memungkinkannya melampiaskan ekspresi dan fantasi lewat gambar.

Begitu gigihnya Heru, membuat banyak teman dan dosen jatuh simpati padanya. Di luar kampus pun Heru tetap berprestasi. Antara lain, menjadi juara III Lomba Abang-None Jakarta, khusus penyandang kelainan, di Balai Kota kantor Gubernur DKI Jaya, Desemher 1996. Di samping ditanyai tentang makanan khas Betawi, Yogyakarta, dan Sunda, “Wah, aku juga diminta joget Betawi, Heru senyum dikulum.

Hebatnya, keterbatasan fisik tak membuat Heru berpikir untuk memanjakan tubuhnya. Tahun 1997, ia ikut berlatih di Merpati Putih hingga mencapai tingkat Balik 2. Ia pun ikut aktif dalam pergerakan mahasiswa proreformasi. Dalam Peristiwa Trisakti Mei 1998, ia tampil sebagai relawan pemasok makanan. Untuk menghindari hujan tembakan, ia harus bersembunyi masuk selokan,

Akhirnya, tibalah mahasiswa istimewa ini di penghujung langkah. Gelar Sarjana Teknik ia peroleh pada 1999 dengan skripsi berjudul “Paroki dan Sarana Fisik Penunjangnya di Jakarta”. Sedangkan topiknya “Penerapan Simbolisme Kristiani pada Bangunan Gereja Katolik dan Gedung Paroki”. Skripsi ini mendapat nilai B (memuaskan).

“Mendengar” kebahagiaan

* Sudah mencapai” titik” puncakkah perjalanan Heru?

Ternyata belum sama sekali. Lulus kuliah, ia bekerja di SLB Santa Lusia di bagian komputer. Tiga tahun kemudian, ia pindah ke PT Mitra Muda. Walau pemiliknya kakak sendiri, Heru tetap bekerja keras, tak jarang harus lembur sampai malam. Ia bertugas menggambar desain rumah, ruko, dan sebagainya.

Heru merasa lingkungan selalu bersikap terbuka, memberinya kesempatan untuk mencapai apa yang juga bisa dicapai orang normal. Dulu, ia ingin sekali mengecap pendidikan tinggi. Lalu lingkungan membantunya hingga ia menjadi sarjana. Jika ia menyapa hangat, orang lain membalasnya dan mengajak mengobrol, walau sering salah tafsir, “Pengaruhnya jauhhh dan daleemmm banget,” akunya penuh perasaan.

Perasaannya memang halus. “Jika saya nasihati dengan kata-kata keras, ia langsung bersedih. Ketika Bapak meninggal dunia, ia juga sangat terpukul, kehilangan figur idealnya,” tutur Soelarmi.

Pernah, ketika ingin berlibur ke rumah kakaknya di Denpasar, ia ingin naik pesawat. lbunya melarang, karena baru ada pesawat jauh dan meminta banyak korban. “Tapi hidup mati ‘kan di tangan Yang Kuasa,” Heru bersikeras, Namun Soelarmi khawatir, jika dalam keadaan darurat Heru tak bisa mendengar instruksi kru pesawat. Karena kesal, ia bicara sambil membentak. Kelihatan ia sedih sekali. Akhirnya, ia pergi juga menggunakan jasa biro travel, dan saya bisa menitip pesan khusus ke sopirnya.”

Ada hal yang membuat pengagum tokoh komik Tintin ini merasa lengkap. Pada 2 Oktober 2002, ia menikahi Violina Oktarini Gunawan, penyandang tunarungu yang enam tahun lebih muda darinya. Vio, gadis cantik itu, menyempurnakan kebahagiaan Heru dengan memberinya seorang putra, Benedict Putra Yuwono, pada 4 Agustus 2003. Rumah mereka di Bekasi kini terasa riang oleh celoteh si mungil yang terlahir normal.

“Jika sudah punya modal dan kesempatan, aku ingin buka usaha sendiri dan membangun rumah dekat ibu, agar kami sekeluarga bisa berkumpul,” tulis Heru.

Soelarmi memang menjadi wanita yang sangat berarti buat Heru. Ditambah kehadiran anak dan istri, seolah tak pernah ada kebekuan dalam hidupnya. Di tengah kebisuan, ia seperti “mendengar”kebahagiaan memenuhi tiap ruang di rumahnya.

(Kompas.com)
Rabu, 02 Maret 2005, 10:04 WIB
Sumber : Intisari (2006-02-17)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: