Oleh: akubisadengar | Maret 16, 2008

Natural Auditoray Oral – Approach

Natural Auditoray Oral – Approach

Components of NAO
– Early intervention
Less than 5 years old
– Parent Guidance
For older children 5-6 years old
– Individual Conversation
– Listening Skills
To learn to listen better

Di dalam penerapan metode NAO ini sebenarnya boleh dikatakan sama dengan Individual conversation. Hal2 yang perlu diperhatikan dalam melakukan Individual Conversation ini adalah:

  1. Kontak Mata (Eye Contact)
  2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)
  3. Bergantian (Turn Taking)
  4. Istirahat (Pause)
  5. Mengulang kontribusi /jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)
  6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)
  7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)
  8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)
  9. Beri pertanyaan (Question)
  10. Nikmati (Enjoy)

Berikut merupakan penjabaran untuk masing-masing komponen:

1. Kontak Mata (Eye Contact)

* Jangan menatap terus menerus
* Sesekali melihat ke segala arah
* Perhatikan apakah lawan bicara mengerti dengan yang kita bicarakan
* Jadikan pembicaraan menjadi percakapan dua arah

Kontak mata mengatakan segala sesuatu. Kita selalu bisa tahu apakah topik pembicaraan kita membuat lawan bicara merasa tertarik atau tidak. Usahakan dalam membicarakan topik, lawan bicara (anak dalam sesi NAO ini) tertarik.

2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)

* Keduanya memperhatikan materi pembicaraan yang sama
* Keduanya mempunyai atensi pada materi yang sama
* Pertahankan lamanya ketertarikan pada pembicaraan

Dalam hal ini orangtua/guru/terapis sebaiknya selama mungkin mempertahankan pembicaraan tersebut, usahakan munculnya kebosanan anak tidak terlalu cepat

3. Bergantian (Turn Taking)

* Berikan kesempatan anak untuk bergantian untuk memimpin pembicaraan
* Kedua-duanya jangan berbicara pada saat yang bersamaan
* Masing2 menunggu lawan bicara selesai bicara (ajarkan anak untuk mendengarkan kita terlebih dahulu baru berbicara, kita juga harus mendengarkan anak dengan baik sampai dia selesai berbicara)
* Ambil posisi bicara setelah anak selesai berbicara
* Orang dewasa sebaiknya tidak boleh memimpin pembicaraan terus menerus.

Contoh pada anak bayi, bagaimana caranya kita memberi kesempatan turn taking ini?

Bila saat kita berbicara pada bayi, bayi merespon kadang hanya dengan kata “EH” sebenernya itulah turn taking yg diambil si bayi. Saat itu kita harus mendengarkan dia, dan stop berbicara.

4. Istirahat (Pause)

  • Kita harus memberi jeda setelah kita berbicara
  • Jangan takut bila terjadi keheningan
  • Biarkan anak memproses sebentar apa yang telah kita bicarakan
  • Jangan terlalu cepat mengambil alih kontrol pembicaraan kembali karena merasa terlalu lama hening

Contoh: misal kita menanyakan ke anak; kamu hari ini pakai baju apa sih? Kemudian tidak menjawab, jangan kita katakan ooo kayaknya kamu pakai baju merah deh. Hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah dengan mengulang kembali pertanyaan, seperti, kamu hari ini pakai baju apa yaa?

  • Kadang2 kita harus mengulang kembali apa yang kita bicarakan
  • Tekankan juga pada gesture, pertanyaan, encouragement seperti body language
  • Bila dirasa terlalu lama tidak ada respon, orang dewasa kembali ambil alih pembicaraan , terutama pada bayi
  • Jangan paksa anak untuk merespon. Jika anda merasakan rasa frustasi dari si anak untuk merespon, jangan teruskan pembicaraan, berhenti saja.

5. Mengulang kontribusi jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)

* Ulang kembali kontribusi jawabn si anak, dengan maksud untuk memberi koreksi pada ucapan si anak
* Orang dewasa harus mengulang dengan susunan kata yang baik dan benar

Contoh:

Anak menjawab: aku baju merah toko

Kita betulkan menjadi: oooh kamu pakai baju merah yang dibeli di toko kemarin

Hal ini sama dengan diri kita ketika kita belajar baha selain bahasa indonesia. Awal2 kita berbicara pasti terpatah2, bila kita berbicara terpatah2 biasanya orang lain yang lebih mengerti akan membetulkan pengucapan kita sehingga kita bisa mengerti harus bilang bagaiman. Beginilah yang terjadi juga untuk anak2 tuna rungu.

6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)

  • Terima semua jawaban anak walaupun hanya “EH”
  • Jangan memakai kata yang berkonotasi negatif, seperti misalnya tidak, jangan, salah, kurang, kurang bagus, dsb
  • Bila anak merasa tertekan (discouraged), pada waktu berikutnya anak akan memberikan perhatian yang lebih sedikit pada sesi ini.

7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)

  • Ulangi kembali perkataan/jawaban si anak dengan menggunakan bahasa yang baik
  • Usahakan anak untuk dapat mengulang apa yang kita ucapkan ulang
  • Anak mendapatkan auditory feedback

8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)

  • Berikan penekanan untuk selalu mendengar
  • Berikan kata-kata seperti, “dengar”, “coba dengar” bukan “lihat”,”coba lihat”
  • Ingatkan/alihkan perhatian anak bila mendengar suatu suara yang tiba/membikin terkejut. Misal bila kita sedang mengadakan sesi percakapan, tiba-tiba ada pintu terbanting, kita bisa bilang seperti ” eh nak, dengar suara apa itu? ” bila dia belum terlalu aware pelan-pelan tunjukkan dimana sumber suara tersebut

9. Beri pertanyaan (Question)

  • Jangan berikan pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan satu kata, usahakan pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang memaksa si anak untuk dapat menajwab dalam kalimat yang lengkap panjang.
  • Jangan beri tes pengetahuan pada anak pada subyek area tersebut

10. Nikmati (Enjoy)

  • Jangan anggap ini merupakan suatu pelajaran (jadi kaku)
  • Harus selalu enjoy, terutama anak
  • Anak tidak tahu bahwa dia sebenarnya dalam situasi belajar
  • Anak menyelesaikan sesi tersebut dan meminta lagi

Catatan:
Anak yang terlambat memakai alat bantu dengar, tentu akan lebih lama untuk dapat mempelajar bahasa dibandingkan anak yang ditangani secara dini.

Harus setiap hari dalam mengajarkan anak

Di sesi ini diberi contoh anak dari keluarga kelas menengah bawah, anak pertama dr empat bersaudara. Tuli berat (profoundly deaf), hanya memakai Hearing Aid. Saat ditampilkan sesi pertama dia masih berusia 2 tahun. Saat ini usianya 20 tahun (kebayang dong 18 tahun yl alat nya secanggih apa). Luar biasa bagus hasilnya, perfect! Like a normal child! Sekarang dia duduk di bangku university.

Pilih materi yang membuat anak menikmati interaksi (percakapan individu) adalah sbb:

1. Buku

  • Jangan menggunakan gambar yang hanya menampilkan satu gambar besar dalam satu halaman. Ini akan menyulitkan kita untuk mengajak anak bercerita. Contoh dalam 1 halaman hanya terdapat gambar kucing, maka bila kita meminta anak untuk menerangkan gambar apa, maka si anak hanya akan menjawab ya kucing saja. Sebaiknya berikan buku yang menggambarkan suatu keadaan, misalnya gambar seorang anak dalam kamar tidur, anak akan lebih bereksplorasi dalam menggambarkan situasi di dalam kamar tersebut.
  • Gunakan gambar pada buku atau kartu yang mengambarkan sekuensial suatu cerita
  • Gambar juga usahakan sederhana, jangan terlalu rumit sehingga membuat anak menjadi bingung
  • Usahakan gambarnya ekspresif
  • Usahakan cerita pada buku juga relevan terhadap kehidupan anak sehari-hari

Jangan menggunakan buku yang dengan cerita yang tidak ada pada kehidupan sehari-hari, misalnya saja cerita anak-anak di luar indonesia, karena tidak paham dengan kegiatan sehari-hari, maka biasanya akhirnya mereka tidak akan memperhatikan, kita pun kehilangan interaksi

Buku yang dicontohkan oleh terapis di sini adalah buku seri cerita balita dari mizan berjudul “aku tidak ngupil sembarangan”. (maaf ini bukan merefer ke suatu religi tertentu, kebetulan juga si terapis bukan muslim dan bukan orang indonesia, namun menurut beliau buku ini terdapat contoh yang baik dan punya kriteria yang cocok seperti yang dijabarkan, sehingga membuat untuk anak bisa bereksplorasi dalam menerangkan keadaan dalam gambar).

Menurut beliau lagi, untuk di negara yang berbahasa inggris buku-buku yang menceritakan suatu cerita dengan kalimat berulang ulang seperti gingerbread man, magic pot, 3 pigs and a wolf juga sangat bagus, karena dengan pengulangan kalimat berkali-kali membuat anak semakin mengingat penggunaan kata yang tepat (di Indonesia kayaknya gak ada yah? Ato ada buku kayak gini? Jarang nemu soalnya)

Selanjutnya adalah buku magnet (beberapa saya lihat ada di Gramedia PIM 1 Jakarta, di english section for kids-nya). Jadi biasanya buku tersebut punya sekita 20-an magnet kemudian kita bisa tempel2 sesukanya dalam buku tersebut sambil mengarang cerita sendiri. Intinya bukan untuk menyebutkan satu2 item dari magnet tersebut tapi untuk bercerita mengenai aktivitas yang bisa kita dan anak buat. Ingat pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita perbuat dengan material-material ini.
2. Menggunakan kartu

– Gunakan kembali cerita yang sekuensial. Bisa saja buku sebelumnya kita gunting2 menjadi bagian dari kartu, sehingga menarik si anak untuk mencari sendiri kelanjutan ceritanya. Anak jadi beraktivitas dan mencoba untuk menebak apa cerita selanjutnya. Hal ini berguna untuk anak belajar berpikir secara logis (karena sekuensial tadi) dan juga suatu saat nanti akan memberikan skill ke anak dalam menulis suatu komposisi cerita (skill to make a composition writing).

– Salah satu kartu bisa di gambarkan tanda tanya besar sehingga si anak bisa lebih bereksplorasi menggambarkan keadaan yang lain (berimajinasi lain)

3. Nursery Rhymes (bahasa indonesia nya naon ya tante Dion? )

Sebagai contoh mungkin untuk lagu indonesia adalah cicak cicak di dinding

Pertama-tama yang harus kita lakukan dengan memberikan gambaran kepada si anak mengenai isi cerita lagu tersebut, harus digambarkan. Kemudia setelah kita ceritakan semua baru kita nyanyikan. Lagu2 berbahasa inggris sih banyak untuk ini contoh itsy bitsy spider, humpty dumpty.. etc etc.

4. Aktivitas harian di rumah

Misalnya anda membuat susu coklat bubuk. Tunjukkan pada anak kita sedang pegang cangkir dan menghirup wangi susu coklat tersebut. Kemudian tanya anak, kamu mau nak? Dijamin pasti mau deh ! hehehehe (disini anda pasti mendapatkan kontak mata, fase 1). Kalau dia mau kita ajak dia, yuk kita bikin sama2. Lalu ajak ke meja (sebelumnya atur dulu peralatan, bisa disembunyikan bisa tidak). Tanyakan ke anak, kalau mau bikin susu ini apa dulu ya yang di ambil… misalnya si anak belum banyak perbendaharaan kata, mungkin dia hanya berisyarat memegang suatu gelas dan membawa ke mulut, maka kita harus mengulang apa yang dia isyarakatkan (ingat rephrase childs contribution, fase 5), ooh iya betul… geeelaas… lalu kita ambil gelas tersebut. Kemudia tanyakan lagi, apalagi yaa selanjutnya hmmmm… mudah2an si anak menunjuk ke sendok… lalu kita ulang lagi kontribusi anak… iya betul .. seeendoookl. Terus lanjutkan… ambil susu nya, tuangkan air hangat ke gelas (gunakan termos kecil yaaah… termos bayi itu loh yang gak gampang tumpah) ajak anak untuk ikut aduk2 juga. Bisa juga dibikin tricky, utk anak yang sudah agak besar, bila dia bilang air, kita beri dia air dingin, kemungkinan besar dia tahu dan akan menolak, sehingga tercetus dari si anak bahwa dia menginginkan air hangat. Selanjutnya proses mengaduk juga bisa dibuat percakapan, aduk kiri, aduk kanan dlsb. Sampai proses minum. Segala aktivitas bagaimana membuat susu tersebut akan membuat anda bisa bercakap2 lama dengan anak.

Hal-hal lain juga banyak yang bisa dilakukan seperti menyemir sepatu, mencuci saputangan/kaos kaki/etc., membersihkan meja dll. Segala aktivitas harian bisa menjadikan bahan individual conversation tersendiri untuk anda dan anak anda (lumayan kan mengurangi operational cost untuk terapist hehehe). Catatan hanya anda yang mengetahui seberapa batas kosakata anak anda, jadi bisa dikira-kira bagaimana seharusnya aktifitas membuat susu ini menjadikan si anak jadi banyak bercakap.

5. Hindari mainan yang punya bunyi2an, karena anak-anak akhirnya hanya akan memencet-mencet tombol, bukan berkomunikasi


6. Andalah yang memegang kontrol dalam menjadikan materi/mainan dalam melakukan interaksi ini. Interaksi harus dijadikan sesuatu yang sangat menyenangkan, tapi anak tetap tahu bahwa anda yang memegang kendali tersebut.

Sumber: http://icanhear.multiply.com/journal/item/6/Natural_Auditory_Oral_-_Approach


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: