Oleh: akubisadengar | September 14, 2008

Mungkinkah kata-kata Tuna Rungu terhapus dari kamus bahasa di seluruh dunia??

Oleh : Nora Amelda Rizal

Dengan semakin berkembangnya tekhnologi saat ini, telah terbukti bahwa khususnya alat bantu dengar yang digunakan oleh kaum tuna rungu saat ini benar-benar telah membantu kehidupan mereka untuk dapat bergabung pada komunitas mayoritas.

Baru-baru ini saya sangat kagum dengan melihat beberapa anak-anak kita yang notabene masih kecil sudah SEMPURNA dalam berbicara. Nafas teratur seiring dengan kalimat yang diucapkan, tidak ada nada-nada aneh yang terdengar ketika berbicara. Ada dua orang anak yang sungguh semakin memacu semangat saya untuk bisa menjadikan aanak saya dan anak-anak lain seperti mereka. Yang pertama adalah Celine, umur saat ini 8.5 tahun kelas 2 SD, dengan ambang satu telinga 70 dB yang satu lagi tidak terdeteksi(maaf kalau salah, tapi seingat saya tidak kurang dari 90 dB, karena tidak pernah dipakaikan alat pada telinga ini). Selama setahun pengamatan, sejak berpindahnya celine dari sekolah luar biasa ke sekolah umum, perkembangannya betul-betul sangat pesat. Satu bulan pertama dia bersekolah dan bertemu dengan saya, kaget saya dibuatnya, karena tiba-tiba pelafalannya jauh dari sengau. Setelah setahun lebih, kebetulan ketemu kembali dengan celine, dia datang ke lembaga pendidikan yang saya kelola utk ikut belajar. Ketika saya dan beberapa guru mengamati celine, luar biasa pengajaran pelafalan kata (pronounciation) dalam dua kali sudah bisa dia tirukan. Kemudian kami mencoba permain bisik-bisik, dan ternyata celine dapat mendengar bisikan itu! Masya Allah.. saya sampai shock dibuatnya. Sempurna … sangat sempurna.

Yang kedua adalah Nayla.. balita kita yang baru berusia 3 tahun, tuli berat alias profound deaf, dengan ambang telinga 90 dB dan yang lain 110 dB, mulai bisa bernyanyi, dan juga pelafalan kata-katanya sudah hampir sama dengan anak normal usia 2 tahun! Kebetulan saya ada satu ruangan dengan dia selama hampir 3 jam, dan dia cerewet bukan main, padahal setengah tahun lalu belum kedengaran satu patah kata pun. Dan yang lebih parahnya lagi (parah maksudnya kok ya luar biasa gitu :D) , Nayla bisa mengucapkan huruf s yang bersih, bukan syyy atau shhh yang biasa terjadi pada anak tuna rungu lainnya. Waaah senang sekali mendengarnya dan terharu saya dibuatnya. Subhanallah.

Ini dia satu lagi bukti bahwa peranan orang tua betul-betul kunci dari keberhasilan anak tuna rungu. Bukan para terapis, bukan obat-obatan, murni aplikasi pengajaran sehari-hari di rumah. Terapis, dan alat penunjang lainnya hanya kendaraan yang membantu akselerasi jalannya kendaraan tersebut. Maintenance tetap ada di tangan orang tua.

Dari dua contoh ini saja, saya kok sangat optimis bahwa pe-label-an tuna rungu bisa dihapuskan. Seolah-olah alat bantu dengar merupakan suatu alat bantu layaknya seperti kaca mata.

Bagaimana pendapat mp-ers sekalian. Kalau sudah begini rasanya kita memang harus memperjuangkan penghapusan pajak barang mewah untuk alat bantu dengar.

Sumber: http://icanhear.multiply.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: