Oleh: akubisadengar | September 15, 2008

In My Humble Opinion

Catatan : Nora Amelda Rizal

Setelah melihat dan mempelajari berbagai macam hal mengenai tuna rungu, ada beberapa hal yang ingin saya simpulkan dan tuliskan di sini:

1. Terapi untuk Tuna rungu pada jaman ini SANGAT BANYAK, tidak hanya terpaku pada terapi tertentu saja. Tapi musik pun ternyata juga sudah merupakan bagian dari terapi untuk anak tuna rungu, malahan adalagi yang masih saya olah terjemahannya yaitu Terapi Qur’an. Yang sangat saya sedihkan, hal ini baru saya ketahui setelah setahun surfing-surfing sana sini. Kenapa? karena di Indonesia ini atau di dunia juga pada umumnya tidak ada satu juklak pun yang memberitahukan bahwa betapa banyak terapi2 apa saja yang bisa ditempuh oleh penderita tuna rungu. Yang selalu digembar-gemborkan hanya beberapa terapi saja. Kecurigaan saya semakin kuat bahwa dibalik terapi-terapi yang ngetop ini ada suatu bisnis lain yang ikut membonceng. Sangat … sangat menyedihkan. Kecacatan dibuat menjadi suatu profit bisnis yang mengerikan! Semoga perkumpulan kita ini dapat membuat suatu prosedur yang valid dan mantap, juga terapi yg bisa diajarkan ke siapa saja, untuk the next generation of hearing impairments!

2. Bila tadi mengenai konsep pemikiran jaman sekarang, kita juga terbentur dengan konsep pemikiran jaman dahulu, yaitu stigma masyarakat awam mengenai penderita tuna rungu. Ketika masyarakat awam mendengar kata-kata tuna rungu mereka hanya menunjukkan rasa simpati, dan kemudian di benak mereka, kasihan.. mereka hanya jadi second class people. Hal ini semakin diperkuat oleh beberapa unsur di sekolah spesial yang masih meyakini bahwa ketuna runguan harus diterima dan tak ada yang bisa merubah, meskipun dibantu dengan alat bantu dengar. Malah pernah saya bertemu dengan salah satu unsur di dalam satu sekolah, ketika saya lagi mengadakan pengamatan, mengatakan bahwa mereka tidak suka dengan tekhnologi yang ada yang membuat anak-anak ini mendengar, itu merupakan pelanggaran hak, dan memperkosa mereka! Waduuh…. luar biasa, saya sampai speechless ketika mendengar hal ini. Ketika semua orang tua manapun percaya dan manut dengan unsur sekolah, sangat menyedihkan bahwa akibat opini jadul seperti ini maka anak-anak menjadi korban. Orang tua percaya bahwa anak mereka sudah begitu adanya, tidak akan bisa diapa-apakan lagi. Bersyukurlah dengan kita yang masih bisa membuka pintu dunia di manapun melalui internet ini, bayangkan bagi mereka yang tidak mampu!

3. Opini orang tua sendiri. Masih banyak yang saya perhatikan orang tua merasa sangat kasihan dengan anak-anak tuna rungu, sampai seolah2 bagaikan anak yang betul-betul invalid. Akhirnya orang tua ini menerima kemajuan anaknya yang sangat kecil sebagai suatu pencapaian yang sudah maksimum dan selesai. Misal, ketika anak belajar berbahasa ooh anak saya sudah bisa berkata satu huruf, walaupun masih belum jelas layaknya orang normal berbicara, mereka sudah puas! Cukup.. itu saja sudah bagus, sudah bisa dimengerti. Ketika si anak di motivasi kembali, orang tua mengatakan itu saja sudah cukup! Sangat disayangkan karena hal ini akan berpengaruh pada mental si anak, anak menjadi terlalu cepat puas dengan pencapaian yang telah ia raih. Padahal bila kita melatih anak kita yang normal kita selalu menyuruh anak kita untuk terus berjuang. Jadi kenapa anak tuna rungu harus dibedakan??

Akhirnya si anak semakin menyadari dia mempunyai kekurangan. Akhirnya si anak makin menyadari bahwa dia orang yang harus di toleransi. Segala rintangan yang kelak dia hadapi akan melemahkan daya juangnya karena dia permissive pada diri sendiri. Padahal di dalam masyarakat tidak ada toleransi, semua orang dianggap sama.

Gitu dulu… any comments?

Sumber: http://icanhear.multiply.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: